Rabu, 11 Juni 2008

Sekilas Pandang Pendidikan di Inggris

Saya berkesempatan untuk mengikuti short training di Leeds University, Inggris dengan biaya TPSDP (Technological and Professional Skills Development Project) -program bantuan ADB untuk perguruan Tinggi di seluruh Indonesia- dan merasakan bagaimana atmosfer pendidikan di sana. Memang waktu yang sangat singkat (1 bulan) tidak dapat mewakili gambaran secara lengkap pendidikan di Inggris namun cukup untuk mengamati dan mencerna seperti apa pendidikan, khususnya perguruan tinggi di sana dan ‘adapt and adopt’ hal-hal yang baik untuk diterapkan di Universitas Bina Darma.
Ada beberapa hal yang cukup menarik untuk diamati dan menjadi perhatian saya. Yang pertama, atmosfer akademik sangat terasa di lingkungan kampus dimana kampus menjadi rumah ke dua dan waktu mahasiswa sebagian besar dihabiskan di kampus untuk berdiskusi ataupun mengerjakan tugas di perpustakaan atau ‘help zone’-suatu area yang dirancang untuk membantu mahasiswa menyelesaikan tugas. Mahasiswa dituntut untuk menyelesaikan tugas dengan baik dan biasanya satu tugas dengan referensi paling sedikit 5 buku atau jurnal yang harus dibaca untuk dapat disarikan dan dikutip sebagai penunjang dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Di sana tidak kita jumpai mahasiswa yang hanya duduk menunggu kelas berikutnya tanpa mengerjakan apapun karena mereka sangat menghargai waktu sehingga waktu yang tersedia mereka manfaatkan sebesar mungkin untuk belajar atau membaca. Budaya membaca tidak hanya dijumpai di kampus tetapi di dalam bis, stasiun, taman, bahkan di kafetaria dapat kita temukan orang yang makan siang sambil membaca. Sungguh pemandangan yang tidak lazim di Indonesia.
Yang kedua, pengajaran di perguruan tinggi di Indonesia umumnya menggunakan ‘lecturing style’ dimana dosen yang menjadi center dan mahasiswa menunggu informasi yang akan diberikan oleh dosen, tidak demikian halnya yang saya lihat di sana. Dengan didukung fasilitas belajar mengajar yang lengkap, dosen tidak selalu memulai dengan informasi yang ingin disampaikan tetapi juga mengaktifkan mahasiswa untuk berpartisipasi membahas dan mendiskusikan topik pada saat itu dengan menggunakan fasilitas-fasilitas belajar mengajar yang tersedia di dalam kelas termasuk fasilitas internet. Di lain waktu, mahasiswa yang ‘berperan’ sebagai dosen dimana mereka diberi tanggung jawab untuk membahas satu topik yang didiskusikan di dalam kelas. Yang sangat saya rasakan adalah mahasiswa sangat dituntut untuk aktif belajar mandiri dengan dosen sebagai fasilitator bukan sebagai satu-satunya sumber informasi karena metode yang diterapkan membuat mahasiswa menjadi aktif mencari informasi dari berbagai sumber tidak hanya menunggu masukan dari dosen. Hal ini dapat dimungkinkan mengingat kampus dilengkapi dengan perpustakaan yang memiliki koleksi yang kuantitas maupun kualitas yang relatif lebih baik dan perpustakaannya juga sudah didukung oleh teknologi informasi yang canggih sehingga memudahkan mahasiswa untuk meminjam maupun membaca melalui internet yang dapat diakses dimanapun.
Yang ketiga adalah budaya mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran untuk dapat disampaikan dengan kalimat dan cara yang baik di dalam kelas. Dalam satu kelas training yang saya ikuti ada 11 peserta dari Eropa dan 3 peserta dari Asia termasuk saya. Peserta dari Eropa saya rasakan lebih aktif menyampaikan pendapatnya termasuk ‘menentang’ informasi yang disampaikan oleh pengajar tentu saja dengan didukung oleh sumber-sumber informasi yang sudah dibaca. Padamulanya hal ini sangat mengganggu saya karena saya mau pengajar menyelesaikan dulu apa yang ingin disampaikan barulah disanggah apabila ada yang tidak sesuai. Namun karena masukan disampaikan dengan cara yang baik dan kemudian didiskusikan bersama, lama kelamaan saya dapat menerima hal ini. Menyampaikan sesuatu yang berbeda tidak diharamkan sepanjang disampaikan dengan cara-cara yang baik dan benar. Mahasiswa di Indonesia pada umumnya, dengan fasilitas terbatas dan budaya manut, menjadi mahasiswa yang pasif dan menerima apa yang disampaikan tanpa terbiasa memproses dan menganalisis masukan yang didapat. Masyarakat Eropa pada umumnya sejak dini sudah dibiasakan untuk mengekspresikan keinginan dan menganalisis kejadian yang ditemui. Hal ini sangat saya rasakan pada saat menonton tv dengan keluarga home stay dimana mereka sepanjang menonton terus membahas dan mendiskusikan apa saja yang dilihat dan didengar baik itu program berita maupun tontonan ringan seperti soap opera. Dari serangan Israel dan kebijakan Amerika yang berpihak sampai pakaian yang dikenakan oleh artis pendukung dikomentari dan dibahas. Bagi saya yang terbiasa menonton dengan tenang hal ini benar-benar mengganggu konsentrasi apalagi sekali-kali mereka juga meminta pendapat saya. Setelah saya renungi, kebiasaan ini berdampak positif pada keaktifan mahasiswa mengemukakan pendapat di dalam kelas dimana mereka di keluarga juga sudah terbiasa mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiran.
Apa yang saya temui di sana tidak semuanya baik karena ada juga hal-hal yang saya rasakan tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia. Namun hal-hal yang tidak baik tidak terlalu menjadi pengamatan saya sehingga tidak perlu saya ungkapkan di sini. Apa yang sudah disampaikan di atas, seperti yang sudah saya sampaikan di awal, tentu tidak dapat mewakili pendidikan di Inggris maupun di Indonesia karena hanya berdasarkan pengamatan dan kesimpulan saya sendiri. Mudah-mudahan ini dapat menjadi oleh-oleh bagi perguruan tinggi khususnya Universitas Bina Darma untuk terus memperbaiki dan mengembangkan hal-hal baik yang dapat diadopsi dari pengalaman ini.

Selasa, 10 Juni 2008

Siapa Bilang Berobat ke Singapura Mahal

Ayah saya mengalami penyempitan pembuluh darah ke jantung sehingga harus dioperasi dengan memasang cincin pada pembuluh darah yang bermasalah agar aliran darah dapat berjalan lancar dan sehat kembali. Mendengar keputusan dokter di Palembang bahwa ayah saya harus dioperasi, rasanya seperti akan kiamat. Perasaan sedih berkecamuk di dalam dada. Kalau penyakit biasa mungkin tidak terlalu risau, tapi operasi di jantung...waduh bagaimana ini.
Walaupun beresiko tetapi ayah memutuskan untuk tetap melakukan operasi pemasangan cincin pada pembuluh darah. Namun kekhawatiran tentu saja ada, karenanya ayah bertanya ke beberapa teman dan saudara yang pernah menjalani operasi jantung dan tentu saja tetap berkonsultasi dengan dokter ahli. Setelah mendapatkan informasi dari berbagai pihak dan dengan pertimbangan-pertimbangan berdasarkan masukan yang didengar, akhirnya diputuskan untuk melakukan operasi di Singapura sesuai dengan anjuran dokter yang menangani ayah. Keputusan ini tentu saja berdampak pada kesiapan finansial karena berobat di luar negeri membutuhkan biaya yang tidak sedikit jumlahnya.
Saya memutuskan untuk menemani ayah operasi di Singapura karena ibu saya tidak menguasai bahasa Inggris sehingga kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka saya diharapkan dapat mengurus segala sesuatunya karena bahasa Inggris saya lumayan baik, paling tidak komunikasi dapat berjalan lancar. Walaupun, ternyata ibu dapat berkomunikasi dengan perawat dan petugas rumah sakit karena rata-rata mereka dapat berbahasa melayu. Jadi sebetulnya bahasa tidak terlalu menjadi kendala untuk berobat di Singapura.
Dari Palembang, ibu membawa sedikit bekal makanan karena khawatir akan kesulitan mendapatkan makanan halal di sana. Bekal finansial pun sudah dipersiapkan secukupnya. Dan akhirnya kami sekeluarga berangkat hari Minggu dengan Silk Air langsung Palembang-Singapura. Perjalanan ternyata cukup singkat karena hanya dibutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke Singapura. Rasanya seperti berangkat ke Jakarta saja. Untuk sampai ke Hotel Elizabeth dari bandara pun hanya memakan waktu 15 menit. Perjalanan yang tidak terlalu melelahkan untuk orang sakit yang akan berobat karena tidak terasa, eh...sudah sampai tujuan.
Keesokan harinya, kami berjalan kaki ke Rumah Sakit Mount Elizabeth yang lokasinya tidak terlalu jauh dari hotel. Sampai di sana sudah banyak sekali pasien yang antri menunggu giliran. Saya berkata dalam hati,”Wah, bisa sampai sore saya di sini, apalagi yang melayani hanya 3 orang petugas.” Tetapi ternyata dugaan saya salah besar karena tak lama kemudian ayah saya dipanggil untuk segera diperiksa. Saya sempat terheran-heran bagaimana cekatannya petugas memeriksa pasien yang, tentu saja, dibantu dengan peralatan medis yang canggih. Pemeriksaan bisa berjalan dengan cepat karena satu petugas langsung menyelesaikan semua tes dan pemeriksaan yang harus dilalui pasien tanpa harus dirujuk ke bagian lain yang berarti petugas juga memiliki sejumlah kompetensi untuk menggunakan alat-alat medis yang berbeda-beda. Bukan main, pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh beberapa orang dapat diselesaikan dengan cepat cukup oleh 1 orang petugas saja.
Setelah mendapatkan hasil maka ayah saya dirujuk ke ruang operasi. Tak berapa lama dokter yang menangani datang dan menyapa dengan ramah. Proses operasi tidak terlalu lama, dan berdasarkan cerita ayah, operasi dilakukan dengan bius lokal jadi ayah dapat melihat langsung proses operasi dari tv yang disediakan di kamar dan bahkan dapat bertanya dengan dokter mengenai hal-hal yang ingin diketahui.
Pasca operasi, ayah kelihatan sehat dan tidak merasakan sakitnya operasi. Ayah sudah dapat melakukan aktifitas seperti biasa karena ternyata operasi hanya membutuhkan sedikit sayatan kira-kira 4 cm di pangkal paha untuk memasukkan cincin melalui pembuluh darah. Setelah sayatan dijahit kembali maka ayah dianjurkan untuk beristirahat selama 2 hari.
Hari Rabu, ayah ke luar dari rumah sakit dan operasi dinyatakan berhasil. Tentu saja kami gembira mendengar hal ini. Hari Kamis, kami sudah bersiap-siap pulang ke Palembang namun sebelum pulang kami berkonsultasi dulu dengan dokter untuk menanyakan kemungkinan perjalanan yang akan kami tempuh mengingat ayah baru selesai operasi. Ternyata dokter menyatakan tidak masalah karena penerbangan relatif singkat dan kondisi ayah dinyatakan baik. Akhirnya kami pulang ke Palembang dengan meninggalkan bekal makanan yang dibawa ibu karena ternyata tidak susah mendapatkan makanan halal di Singapura.
Alhamdullilah, kami sekeluarga bersyukur atas kesembuhan ayah. Bekal finansial yang kami persiapkan masih ada sisanya karena ternyata biaya berobat ke Singapura tidak semahal yang diperkirakan sebelumnya. Hal ini dapat dimungkinkan karena ayah hanya menghabiskan waktu 3 hari di rumah sakit. Kalau membandingkan dengan teman ayah yang melakukan operasi yang sama di Jakarta namun penyembuhannya memakan waktu 1 bulan lamanya, ternyata biaya yang dikeluarkan relatif sama. Pelayanan dan kelengkapan peralatan medis di rumah sakit juga menjadi nilai tambah tersendiri. Sekarang ayah saya sudah sehat dan dapat beraktifitas seperti biasa.

Senin, 02 Juni 2008

Liburan ke Belanda

Kalau mau jalan-jalan ke Eropa jangan melewatkan Belanda. Pemerintah Belanda betul-betul ramah dengan turis manca negara. Pusat informasi disediakan di hampir setiap sudut. Apabila butuh informasi, cukup mencari lambang tanda tanya (?) berwarna kuning, maka dengan cekatan mereka akan membantu memberi informasi yang kita butuhkan. Hal ini dimungkinkan dengan bantuan teknologi informasi yang canggih dan terkoneksi.

Kalau berkunjung ke Eropa jangan lupa untuk membuat schengen visa sebagai pass untuk berkeliling di 23 negara yang tergabung dalam uni eropa. Tapi, apabila kita memilih Belanda sebagai negara kunjungan pertama, kita harus melalui tahap wawancara di kedubes belanda di jkt, so jadikan belanda sebagai negara kunjungan ke 2 or selanjutnya supaya gak repot dengan pengurusan visa karena dapat dilakukan melalui agen perjalanan.

Banyak sekali paket-paket wisata dalam bentuk brosur yg dapat diambil pada saat check-in di Hotel. Sepertinya sudah terjalin kerjasama yg cukup baik antara penyedia paket wisata dengan hotel-hotel yang ada. Brosur paket-paket wisata yang tersedia sama banyaknya seperti pada saat kita baru sampai di bandara Ngurah Rai, Bali. Kita tinggal mencari informasi dan memilih tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Saya tiba d schipol air port, kota yang sangat ramah. Dari bandara, saya beli karcis kereta api di mesin (rada sedikit bingung karena harus berhubungan dgn mesin instead of manusia, maklum blum terbiasa) menuju central station. Sampai di central station, sy mencari informasi ttg Amstel Boatel tempat saya akan menginap. Amstel Boatel adalah hotel bintang 3 yg berasal dari kapal. Karena itu hotel ini ada di atas sungai persis di sebelah Indonesian Floating Restaurant.

Setiba di resepsionis, saya mengambil beberapa brosur paket wisata yang saya bawa ke kamar. Saya agak surprise dalam brosur ada paket " Tour to the Redlight District". Bertambah kaget lagi setelah membaca keterangan paket yang dimaksud. Paket ini adalah paket berkunjung ke lokalisasi dimana tour leadernya seorang PSK. Weleh...weleh....Saya cukup kagum dengan kreatifitas orang Belanda menciptakan paket-paket yg cukup unik yang saya yakin kalau di Indonesia paket ini pasti akan ditentang habizzzz.

Sebetulnya paket dimaksud cukup menarik, tetapi karena saya traveling sendiri saya tidak berani mencoba walaupun dapat jaminan aman dari pihak hotel karena berangkat dalam rombongan. Saya memilih paket-paket aman yang sama menariknya.

Hari pertama saya habiskan berjalan-jalan di Amsterdam dengan hoop in hoop off. Karena Amsterdam terdiri dari kanal-kanal, maka dengan mudah kita dapat berjalan dan membaca peta yg tersedia. Saya ke Madam Tusaud/ patung lilin dan berfoto dengan Queen Beatrix, Lady Diana, Pierce Brosnan, dan banyak lagi yang lain. Sayang, hasil fotonya agak sedikit kabur. Saya juga sempat mampir di Gasan diamond factory. Waktu datang, masing-masing peserta ditanya asal negara. Ternyata, ada leader yg akan menemani tour dan saya sendiri dapat tour guide dari Indonesia. Namanya Mira, dia sudah 10 tahun di Belanda setelah menamatkan S1 nya di jkt. Karena sy sendiri yg berasal dari indonesia, jdnya hanya berdua aja n bs lebih banyak tanya ttg diamond. Dari kunjungan itu saya tau ada 4 C yang menentukan harga berlian. 1) Carrat, makin besar carratnya makin mahal harganya, 2) Colour, warna yg paling bagus warna biru jadi waktu dipotong kilaunya lebih menonjol, setelah biru putih dan yg terakhir kuning. Di martapura kebanyakan warna berlian kuning. 3) Cutting, makin banyak cutting maka makin mahal. Pada saat ke sana thn 2006, ada cutting terbaru dgn 210 sayatan. Wah, kebayang gak kilaunya. Tapi sayatan ini harus minimal 1 carrat karena kalo kurang dari itu maka berliannya akan hancur. Yang terakhir 4) Clarity. Ini sih baru bisa terlihat dengan alat khusus untuk melihat bubble or spot yg ada pada berlian. Karena berlian hasil alam, jarang ada berlian yg benar-benar sempurna. Akhirnya, setelah mendapat penjelasan panjang lebar, sy membeli cincin yg cukup menguras kantong. Hik....hik...hik.... Packagingnya rapi bgt n ada sertifikat keasliannya yg berlaku secara Internasional karena Gassan ada di beberapa negara termasuk outlet di jkt.

Hari kedua saya ikut paket ke Madurodam, melihat miniatur Belanda. Berbeda dgn taman mini yg tidak mini, di sana semuanya betul-betul dalam ukuran mini. Saya sempat menitikkan airmata waktu melihat peasawat Garuda parkir di landasan Schipol. Otw, ke Maduraodam, rombongan mampir ke Delft melihat pembuatan pottery. Delft terkenal dengan hasil tembikarnya.

Saya ingin sekali melihat bunga tulip di hokenkoff, tapi sayang baru berbunga di bulan Maret-Mei sedangkan saya datang pada bulan Juli. Sehingga saya putuskan untuk melihat volendam, desa nelayan dan pembuat keju.

Masih banyak yg bisa diceritakan di Belanda, karena saya bertemu dengan orang Belanda yg pernah ke Indonesia yg sepertinya illfeel, so dia always nice to me...... Sampai di sini dulu ya........

Minggu, 01 Juni 2008

Canada World Youth (CWY)

Saya adalah salah satu peserta CWY angkatan tahun 1987. CWY adalah program yang didanai oleh pemerintah Canada bekerjasama dengan pemerintah Indonesia melalui Diknas. Programnya selama kurang lebih 9bulan dilaksanakan di Canada maupun di Indonesia. Setiap provinsi mengirm wakil yang akan diseleksi di jakarta untuk menentukan apakah ybs layak berangkat atau tidak.

Saya berangkat tahun 1987 dan ditempatkan di Fort Frances, Ontario yang berbatasan dengan Amerika.Pada saat winter dimana air sungai yang membatasi fort frances dan Amerika mengeras ada sapi yg menyebrang sampai ke amerika. Si sapi bikin repot yg punya karena proses pengembalian membutuhkan administrasi dan proses karantina yang panjang. Ada-ada aja si sapi....

Cukup banyak kenangan dan pengalaman yang saya rasakan selama di Canada. Kami juga pernah culture show di Toronto University. Pengunjung cukup banyak dan banyak pertanyaan termasuk "Indonesia di sebelah mana Bali?" Weleh...weleh.....

Mudah2an tulisan ini dapat menyambungkan saya dan teman-teman lain dari seluruh Indonesia yang pernah ke Canada.
Chayoooo

Kamis, 21 Februari 2008


Bagus yaaa. Ini di Harrogate Park, UK

Selasa, 19 Februari 2008

Pengelolaan Sampah Kota: Antara Beban dan Sumberdaya

PENGELOLAAN SAMPAH KOTA :
ANTARA BEBAN DAN SUMBERDAYA


Sekilas Kondisi Sampah Perkotaan

Wilayah perkotaan menawarkan kemodernan dan kemajuan dalam segala aspek kehidupan masyarakatnya. Dimulai dari tersedianya segala fasilitas-fasilitas yang menggambarkan kemodernan dan peradaban suatu masyarakat, hingga nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat perkotaan. Nilai-nilai kemodernan identik dengan kebersihan dan efisiensi tinggi yang dianut oleh sebagian besar penduduk kota. Bahkan, nilai-nilai kebersihan dan efisiensi ini diterapkan diseluruh relung kehidupan masyarakat kota.
Hal inilah yang menyebabkan terjadinya sampah yang diakibatkan tuntutan hidup yang bersih dan efisien. Sampah selalu dianonimkan sebagai sesuatu yang menjijikkan, kotor, dan tidak berguna sehingga masyarakat merasa perlu menjauhkan diri dari sampah demi alasan kebersihan, higienis, dan kesehatan. Dengan perilaku seperti ini, sampah menjadi beban bagi masyarakat perkotaan
Namun, adakah masyarakat kota sadar, bahwa sampah yang ada merupakan hasil dari prilaku masyarakat itu sendiri. Kemodernan dan kemajuan telah menciptakan perilaku masyarakat yang mempunyai tingkat konsumsi yang tinggi. Semua bentuk konsumsi masyarakat perkotaan sekarang, sudah dapat dipastikan akan menghasilkan sampah. Kita sebut saja pola konsumsi makanan yang serba instan yang mewarnai prilaku masyarakat, semua bentuk konsumsi instan tersebut menghasilkan zat-zat sisa yang pada akhirnya menjadi sampah. Bahkan pola konsumsi tinggi, seperti pakaian, juga menyebabkan masyarakat cepat sekali mempunyai barang-barang bekas yang pada ujung-ujungnya menjadi sampah. Hal ini diperparah dengan perilaku modern yang menuntut efisiensi yang dicerminkan oleh terciptanya styroform, kantong plantik, kantong kertas, dan berbagai produk sekali pakai yang pada akhirnya menjadi sampah.
Jadi, siapa yang harus disalahkan dengan adanya sampah. Toh, yang menghasilkan sampah juga masyarakat sendiri. Pertambahan jumlah sampah setiap hari juga menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Data BPS di tahun 2000 saja, sampah yang dihasilkan oleh 384 kota di seluruh Indonesia adalah sebesar 80.253,47 ton/hari. Jumlah itu akan terus meningkat perharinya, seiring dengan jumlah pertambahan penduduk serta pola konsumsi masyarakat yang tinggi. Jadi, dapat dibayangkan berapa juta ton sampah yang dihasilkan oleh masyarakat kota dalam satu tahun.
Jika kita lihat data, perbandingan rata-rata sampah yang ditimbulkan oleh setiap penduduk di Jakarta adalah sebanyak 0,8 kg/hari, di Bangkok sebanyak 0,9 kg/hari, di Singapura 1,0 kg/hari, dan di Seoul sebanyak 2,8 kg/hari (Water Supply and Sanitation Sector Review, Strategy and Action Plan Preparation, RWSG-EAP, BAPPENAS, 1995). Jadi, silahkan dihitung berapa kilogram sampah yang dihasilkan oleh satu orang penduduk Jakarta dalam satu tahun. Artinya dalam satu tahun seseorang akan menghasilkan sampah sebesar 291,2 kg. Suatu angka yang sangat fantastis, yang dihasilkan oleh seorang penduduk modern yang mengagungkan kebersihan dan efisiensi.
Memang suatu angka yang kontras, dengan apa yang selalu didengung-dengungkan oleh masyarakat kota yang modern yang mengusung konsep kebersihan dan efisiensi, serta dilain pihak jumlah sampah yang dihasilkan oleh oleh masyarakat itu per harinya sungguh-sungguh di luar batas. Dengan nilai-nilai modern ini, masyarakat kota akhirnya selalu menempatkan sampah sebagai sesuatu yang kotor dan jijik, yang harus dijauhi oleh masyarakat. Jadi, sampah dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang dan dihilangkan. Dalam arti lain, sampah dianggap beban bagi kehidupan masyarakat yang modern.

Manajemen Pengelolaan Sampah Saat ini
Nilai-nilai yang ada di masyarakat, yang menganggap sampah sebagai sesuatu beban yang harus dibuang dan dimusnahkan, mewarnai dan mempengaruhi pola pengelolaan sampah di perkotaan pada saat ini. Dinas Kebersihan Kota, telah didirikan sebagai lembaga yang berwenang dalam penanganan sampah di Kota. Namun, apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah dengan dinasnya ini dalam hal pengelolaan sampah? Pemerintah atas desakan masyarakat kota yang membutuhkan lingkungan bersih dan higienis membuat suatu konsep dalam penanganan sampah, dengan menempatkan sampah-sampah hasil dari pola konsumsi dan kegiatan masyarakat tersebut jauh dari tempat pemukiman penduduk. Sampah harus ditempatkan di suatu tempat yang terisolir dari masyarakat kota, sehingga kota akan tetap terlihat bersih dan nyaman sebagai ciri dari peradaban yang modern.
Untuk itu, didirikanlah Tempat Penampungan Akhir (TPA), yang marak diberbagai kota. TPA dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk dari pengelolaan sampah yang didasarkan kepada anggapan bahwa sampah adalah beban. Sampah-sampah yang dihasilkan setiap harinya dari prilaku modern masyarakat kota ditempatkan di suatu tempat, yang biasanya berada di pinggiran kota.
Pengelolaan sampah dengan metode TPA ini, melalui beberapa tahapan. Pertama, masyarakat kota akan mengumpulkan sampah atau yang sering disebut dengan timbunan sampah. Kedua, timbunan sampah ini selanjutnya dibawa dengan mengunakan gerobak-gerobak menuju ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Ketiga, sampah-sampah dari TPS akan dibawa dengan menggunakan truk-truk sampah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Manajemen pengelolaan yang dilakukan oleh dinas kebersihan ini, tentunya mempunyai beberapa kelemahan dan kendala. Sebagai contoh, minimnya gerobak-gerobak sampah serta truk-truk sampah menyebabkan pengalokasian sampah menjadi tersendat. Bahkan di daerah perkotaan yang padat penduduk banyak dijumpai sampah-sampah yang tidak dapat diangkut disebabkan karena minimnya jumlah angkutan sampah, sehingga pada akhirnya sampah-sampah ini menjadi busuk dan mengganggu masyarakat dan lingkungan sekitar.
Pola pengelolaan sampah seperti ini dapat dikatakan sebagai pola penyingkiran sampah, bukan pola penanganan sampah. Konflik-konflik sosial banyak sekali ditemui dalam pendirian TPA-TPA. Penolakan masyarakat terhadap pendirian TPA seharusnya dapat dimaklumi karena tidak memberikan nilai tambah pada masyarakat sekitar. Sampah-sampah yang dihasilkan oleh masyarakat kota dalam jumlah tidak sedikit dibuang ke suatu wilayah pinggiran, yang masyarakatnya sendiri sebenarnya memiliki pola konsumsi yang rendah. Artinya, masyarakat pinggiran tersebut harus menjadi korban akibat dari perilaku dan pola konsumsi masyarakat kota. Apakah ini adil bagi mereka?
Masih banyak lagi kelemahan-kelemahan pengelolaan sampah dengan sistem ini. Semua kelemahan manajemen pengelolaan sampah ini sebetulnya bermuara dari penilaian masyarakat itu sendiri yang menganggap sampah adalah beban, yang artinya harus disingkirkan, dibuang, dan dijauhi sehingga pola pengelolaan sampahpun lebih kepada bagaimana cara menyingkirkan sampah.

Alternatif Pengelolaan Sampah : Sampah sebagai Sumberdaya Ekonomi
Paradigma yang menganggap sampah sebagai beban, seharusnya mulai diubah. Masyarakat harus sadar bahwa keberadaan sampah dikarenakan oleh ulah dan tingkah laku dari masyarakat itu sendiri. Pembangunan yang mengarah kepada pertumbuhan ekonomi, dan berdampak pada pemeliharaan pola konsumsi tinggi, tentunya akan berimbas kepada meningkatnya jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat.
Seiring dengan perubahan paradigma tersebut, saat ini, juga telah banyak ditemukan teknologi-teknologi yang mampu mengolah sampah menjadi sesuatu hal yang bermanfaat. Disini, sampah dijadikan sebagai suatu sumberdaya ekonomi yang mampu digunakan oleh masyarakat.
Sebut saja, teknologi yang menemukan bahwa sampah dapat dijadikan salah satu sumber energi alternatif untuk dijadikan listrik. Kelangkaan sumber energi utama seperti minyak dan gas bumi untuk dijadikan listrik, disini dapat dipecahkan dengan mengunakan sesuatu yang menjijikkan, yang dinamakan sampah. Bukankah ini merupakan satu terobosan penting dalam hal pemanfaatan sampah.
Selain itu, sejak lamapun sebenarnya kita telah mengenal pupuk kompos, yang bahan baku utamanya adalah sampah. Artinya, dengan menggunakan sampah yang menjijikkan, ternyata dapat digunakan untuk meningkatkan jumlah produksi pertanian dengan menggunakan teknologi yang dinamakan pupuk kompos.
Masih banyak teknologi lainnya yang telah ditemukan dalam hal pemanfaatan sampah kota. Semua cara tersebut tentunya didasarkan pada asumsi dan prinsip bahwa sampah harus dijadikan sebagai salah satu sumberdaya ekonomis yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat banyak.
Selanjutnya, apa yang bisa dilakukan dalam hal pengelolaan sampah dengan mengacu kepada paradigma baru ini. Di sini, keterlibatan semua pihak tentunya diperlukan. Dimulai dari masyarakat kota sendiri sebagai penghasil dan sumber sampah. Seharusnya ada edukasi yang mengubah perilaku membuang sampah dengan memilah sampah menjadi sampah organik dan non-organik. Pemilahan sampah yang telah banyak dilakukan oleh masyarakat-masyarakat di negara maju, telah terbukti sangat membantu mempermudah pengelolaan sampah. Pemerintah dalam hal ini Dinas Kebersihan Kota serta pihak swasta, seharusnya dapat mendorong terciptanya teknologi-teknologi yang mampu membuat sampah-sampah menjadi sumberdaya ekonomi. Peran aktif swasta juga diperlukan untuk inovasi-inovasi dalam pengembangan sampah sebagai sumberdaya ekonomi. Sehingga sampah yang tidak mempunyai nilai, akan mempunyai nilai tambah yang menguntungkan bagi pihak swasta.
Yang penting di sini adalah, perwujudan ”zero waste” pada tahun 2025, akan dapat berhasil jika semua pihak sadar bahwa sampah bukan untuk dibuang atau disingkirkan, akan tetapi keadaaan ”zero waste” tersebut dapat tercapai jika kita menempatkan sampah sebagai salah satu sumberdaya ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat kota.
Semuanya ini dapat terwujud jika semua pihak sadar akan posisi dan peran masing-masing. Artinya, masyarakat kota sebagai penghasil dan sumber sampah harus menyadari bahwa timbunan sampah yang menyebabkan bau dan sumber penyakit dihasilkan oleh prilaku mereka yang konsumtif. Penananganan sampah bukan hanya monopoli tugas dari pemerintah melalui Dinas Kebersihan, tetapi juga tanggung jawab masyarakat.